Betapa banyak manusia hari ini yang minim rasa empati dan kepedulian hingga saat dirinya yang tersakiti justru tangannya menunjukki orang yang selama ini ia sakiti.

Di dunia ini memang tak ada orang yang sengaja menyakiti orang lain kecuali dirinya adalah seorang yang berhati jahat. Namun terkadang setiap kata-kata kita tak selamanya diterima atau dianggap baik oleh orang lain. Kiranya diam adalah sikap terbaik saat itu agar suasana menjadi lebih dingin. Kelak waktu yang akan menjawab masa-masa ini. Maka bersabarlah 😊

Antara Beban atau Tanggungjawab

Saat kita merasa bahwa hidup kita semakin lama semakin berat maka ada dua kemungkinan di dalamnya. Pertama, ia adalah beban. layaknya sebuah beban yang misal menimpa diri kita pasti kita akan berat melakukan atau menjalaninya. padahal bisa jadi bagi orang lain hal tersebut mudah baginya.

kemungkinan yang kedua adalah bahwa kita sadar hal tersebut bagian dari tanggungjawab. suka tidak suka kita tetap harus menjalaninya. apa bedanya antara tanggungjawab dengan beban? jika beban akan selalu terasa berat namun tidak bagi sebuah tanggungjawab. meski hal tersebut tetap terasa berat dilakukan namun ada kesadaran yang membuat hal tersebut harus diselesaikan. Misal, seorang ayah yang bekerja (mencari nafkah) untuk keluarganya. Jika ia merasa bahwa mencari nafkah adalah sebuah beban maka saat menjalaninya ia akan terasa berat bahkan setelah ia mendapat uang dari hasil jerih payahnya maka berat pula ia memberikan untuk keluarganya.

berbeda saat ia menyadari bahwa bekerja adalah bagian dari tangungjawab. meski pekerjaan yang ia jalani terasa berat namun ia merasa bahwa hal tersebut adalah amanah. lebih dari itu saat sebuah pekerjaan dijalani karena tanggungjawab maka ia akan bergerak tak hanya sekedar karena perintah atau himbauan.

sehingga perbedaan paling mendasar antara beban dengan tanggunjawab adalah kesadaran dan pemahamannya. sehingga manusia yang hidup dengan cara ini ia akan merasa bahagia dan akan membahagiakan orang sekitarnya.

Terpaksa yang produktif

 

Setiap aktivitas kita pasti ada dorongan yang menggerakkannya. Termasuk melakukan aktivitas karena terpaksa. Lalu apakah selalu menjadi sesuatu yang negatif jika setiap yang kita lakukan dijalani dengan terpaksa?

Bisa jadi tidak. Contohnya adalah membangun habit (kebiasaan) baik. Habit atau kebiasaan baik tidak dibangun dalam waktu semalam. Tapi awalnya adalah dengan keterpaksaan. Contohnya adalah menulis. Orang yang baru mulai belajar menulis takkan langsung bisa menulis dengan lancar bahkan runut jika sejak awal ia tak memaksakan diri untuk mulai menulis. Tantangan bagi setiap pemula tentu dirinya sendiri. Ia harus melawan rasa malas dan menunda-nunda pekerjaannya. Ia pun dipaksa untuk membuka buku atau artikel untuk memperoleh inspirasi, dipaksa untuk mencari diksi (pilihan kata) yang tepatgar tulisannya tak hanya menggunakan kata yang itu-itu saja. Di awal pikirannya kan terus “dipaksa” serta hal hal lainnya.
Namun keterpaksaannya ini bukanlah segalanya. Lambat laun ia akan berubah mrnjadi kebiasaan sehingga ia akan merasa enjoy saat melakukannya meski hal terdsebut dilakukan secara berulang. Jadilah aktivitas produktif
Nah, itulah sedikit contoh keterpaksaan yang produktif.

 

Majalengka, 09 Agustus 2020

Memulai hidup Tanpa Produk Sekali Pakai (Review Buku)

Sumber : foto pribadi

Judul buku : Bye Bye! Sekali pakai
Nama Penulis : DK Wardhani
Tahun Terbit. : 2020
Penerbit : Bentala Kata
Jumlah halaman : 168 hlm
Harga Buku :109.000
Nomor ISBN : 978-623-92725-0-0

Hari ini kita hidup di era yang serba nyaman, praktis dan instan ketika barang-barang sekali pakai menjadi bagian dari keseharian kita. Namun pernahkah kita sadar bahwa ternyata produk sekali pakai memberikan dampak buruk bagi bumi kita. Milyaran ton sampah dari produk sekali pakai meracuni tanah dan mencemari lautan. Dari mulai kantong kresek, kemasan air mineral dan minuman kemasan, tisu, sedotan plastik, kertas pembungkus nasi dan barang sejenisnya hingga minyak goreng bekas (jelantah) menumpuk bahkan berserakan mengotori bumi kita. Maka zero waste adalah salah satu upaya yang mulai hari ini benar-benar diperlukan untuk menjaga kelestarian bumi kita dan menjaga ekosistem masa depan.

Buku ini hadir mengajak kita untuk melihat lebih dalam tentang konsumsi harian kita terhadap produk sekali pakai serta dampak buruknya bagi bumi kita. Apalagi dalam buku ini dijelaskan pula beragam fakta secara detail jenis-jenis produk sekali pakai. Tak hanya teori, buku ini ikut memberikan gambaran darimana kita harus memulai hidup zero waste (minim sampah) agar bisa melakukan perubahan.

Dengan bahasa yang ringan, ngga akan kerasa tiba-tiba sudah habis saja tiap bab saya lewati, bahkan buat yang ngga terlalu suka baca tulisan panjang, buku ini dilengkapi juga dengan ringkasan bergambar dari setiap bab dan sub bab pembahasannya. Jadi kalau lagi males, langsung cuss aja liat tulisan bergambarnya 😁

Yang saya paling suka adalah bagian akhirnya dimana penulis memberikan contoh nyata yang dia bilang sebagai #kolom inspirasi dimana isinya tentang beberapa kelompok baik dari kalangan pebisnis, institusi hingga kegiatan yang telah melakukan gerakan zero waste lengkap dengan tips-tipsnya dari mulai cafe, katering, toko sayur, bisnis fashion dan masih banyak lagi. Tapi ada satu yang menurut aku masih kurang, kurang banyak macam-macam produknya😊😅

Penasaran sama bukunya? Yuk tinggal dicari bukunya. Saya tanya agen tempat saya memesan buku ini saat PO dulu masih ready kok. 😊

Buat yang mau memulai kebaikan, yuk mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri. Jika ada yang bertanya ” Hidup tanpa produk sekali pakai, emang bisa?”

Bisa kok. asal kitanya mau mengusahakan. Isi buku ini sudah jadi buktinya 😊

Nilai 8 /10

Menakar Peran Ibu Di Masa Pandemi

 

by Dwi 

Sejak pertengahan maret lalu hingga saat ini hampir seluruh sekolah se-Indonesia diliburkan. Pembelajarannya diganti dengan mengerjakan tugas di rumah atas pengawasan orangtua. Mekanismenya, guru memberi tugas untuk beberapa hari dan tugas langsung dikumpulkan ke guru tiap harinya via online. Langkah ini menindaklanjuti keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim dalam rangka mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.

Sekilas keputusan untuk belajar di rumah tersebut terkesan menyenangkan. Namun faktanya ketika proses berjalan, banyak keluhan di mana-mana. Terutama dari orangtua murid di tingkat PAUD dan SD. Keluhannya beragam, mulai dari masalah teknis semisal tidak bisa mendisiplinkan anak untuk segera mengerjakan tugasnya, hingga keluhan pada tataran ketidakmampuan secara ilmu para orangtua untuk membantu anak-anaknya mengerjakan tugas.

Problem berbeda muncul pada pembelajaran di rumah bagi siswa SMP dan SMA yang menggunakan pembelajaran daring (pembelajaran dalam jejaring).  Disini justru kita melihat ada ketidaksiapan guru dalam proses pembelajarannya.  Misalnya ketika sudah disepakati pembelajaran menggunakan google classroom. Murid siap semua, giliran gurunya tidak siap dengan operasional aplikasinya. 

Seperti yang diungkap pemerhati pendidikan Indra Charismiadji, “Belum semua guru siap dengan pembelajaran daring. Banyak guru yang kebingungan bagaimana pembelajaran daring tersebut.”

Belum lagi ketidaksiapan juga dialami daerah-daerah yang minim fasilitas, baik piranti maupun jejaringnya. Sejumlah sekolah yang terbiasa menggunakan perangkat teknologi tentu tidak menjadi masalah, namun sangat bermasalah sekali bagi daerah yang minim fasilitas. Kini proses pembelajaran di rumah telah berlangsung. Meskipun kesiapan guru, siswa dan sekolah bervariasi.  Ada yang siap, terpaksa siap dan betul-betul tidak siap. 

Memang tidak bisa dipungkiri perubahan cara belajar jarak jauh ini berlangsung begitu cepat akibat merebaknya Covid-19. Dari peristiwa ini  kita bisa menakar bahwa banyak sekali yang patut dievaluasi dari sistem pendidikan dan tenaga pendidik yang ada di negeri ini. Selain itu, kita juga bisa menakar sejauh mana peran orangtua selama ini dalam keberhasilan proses pendidikan anak.

Dengan peristiwa ini kita bisa melihat dengan jelas  bahwa orangtua selama ini hanya menyerahkan begitu saja pendidikan anak ke sekolah dan ke lembaga bimbingan belajar. Sehingga ketika diminta mendampingi proses belajar anak di rumah, mereka gagap dengan itu semua. 

Belakangan saat jelang semester baru banyak para orangtua yang menginginkan anak-anak kembali bersekolah seperti sebelum pandemi. Bahkan saat kebijakan New Normal diberlakukan sebagian besar orang tua justru senang karena sekolah akan kembali dibuka. Lantas jika demikian, bagaimana seharusnya agar peran orang tua bisa optimal?

Peran Ibu dalam jerat Kapitalisme

Tentu kita juga tidak bisa serta merta menyalahkan ketidakoptimalan peran ibu dalam proses pendidikan anak selama ini. Kondisi tidak ideal ini jika dilihat terjadi secara struktural terjadi karena penerapan sistem kapitalisme di negeri ini.  Munculnya himpitan ekonomi akibat penerapan sistem kapitalisme yang eksploitatif telah memproduksi fenomena kemiskinan dan badai PHK. Sehingga menyebabkan beban ekonomi keluarga semakin berat dan memaksa kaum ibu untuk ikut bekerja menanggung ekonomi keluarga.

Apalagi ditambah program pemberdayaan ekonomi perempuan yang dilegalisasi oleh penguasa turut menjerat secara sistematis kaum ibu dalam jebakan dunia kerja atas nama kesetaraan gender. Sungguh karena desakan ekonomilah akhirnya kaum ibu selama ini lebih lama berada di luar rumah untuk bekerja  dan sedikit sekali waktu bersama anak dan keluarga di rumah. 

Namun sejak diberlakukannya kebijakan social distancing oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran covid-19, maka mulai dari aktivitas belajar, bekerja dan beribadah di haruskan untuk di lakukan di rumah. Masyarakat diminta untuk mengkarantina diri di rumah. Terlepas dari sisi positif dan negatif akibat dari pemberlakuan kebijakan tersebut, misalnya dari sisi ekonomi dll, hikmah besar di balik itu semua adalah karena qadarullah kaum ibu akhirnya “pulang” ke pangkuan keluarga terutama anak-anak mereka.

Sayangnya karena terlalu lamanya Ibu meninggalkan peran dan tanggung jawabnya di rumah, sehingga ketika menjalani karantina di rumah di masa pandemic Covid-19 ini, banyak yang gagap bahkan stres menghadapi tingkah pola anak di rumah dan menjalankan tugas-tugasnya di rumah.  

Maka agar kaum ibu selama masa karantina rumah akibat pandemi corona ini tidak stres dan gagap menjalankan tugas serta tanggungjawabnya di rumah, maka para ibu harus dipahamkan kembali betapa besarnya peran dan tanggungjawabnya bagi pembentukan generasi. Agar kembalinya ibu di rumah tidak diisi dengan aktivitas mengalir begitu saja tanpa berkontribusi positif bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas

Kemuliaan Seorang Ibu

Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”,  jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Di dalam rumah, siapakah yang mempunyai banyak waktu untuk anak-anak? Siapakah yang lebih mempunyai pengaruh terhadap anak-anak? Siapakah yang lebih dekat kepada anak-anak? Tidak lain adalah ibu-ibu mereka.

Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya orangtua termasuk di dalamnya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.  Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang dibalik keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya.

Inilah kekuatan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya. Tatkala sang anak merasa ragu akan hal yang ingin diperbuatnya, namun mereka teringat akan nasehat ibu mereka, maka semua keraguan itu menjadi hilang, yang ada hanya semangat dan keyakinan akan harapan seorang ibu. 

Demikianlah peran mulia seorang ibu, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik, saleh dan salehah yang setiap aktivitasnya  di landasi atas iman dan semata-mata mencari ridho Allah SWT. Karena anak-anaknya lah yang menjadi sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya.

Ketahuilah, banyak di kalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang di dapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.

Bahkan seorang pemimpin di masa Islam yakni Muawiyah bin Abu Sofyan lahir dari seorang  ibu yang visioner, Hindun binti Utbah. Sebagai seorang ibu, Hindun adalah motivator yang mampu menjadi teladan. Ash Shalabi mengutip dialog dalam Al Bidayah wan Nihayah,  “Ayah dan ibunya memiliki firasat mengenai dirinya sejak kecil bahwa ia mempunyai masa depan yang agung. Hal ini diketahui ketika Abu Sufyan melihatnya merangkak, ia berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya anak kita ini kepalanya besar. Sungguh, ia sangat pantas memimpin kaumnya.” Hindun menanggapi, “Kaumnya saja? Celakalah aku jika ia tidak memimpin bangsa Arab secara keseluruhan.”

Abban bin Utsman meriwayatkan, “Suatu ketika Muawiyah sedang berjalan bersama ibunya, Hindun. Ketika ia terpeleset, kontan Hindun berkata, “Berdirilah! Semoga Allah tidak mengangkat derajatmu.” Ada seorang Badui melihat, lalu ia berkata, “Mengapa engkau mengatakan hal tersebut kepadanya? Demi Allah, sungguh saya menduga bahwa ia akan memimpin kaumnya.” Hindun berkata, “Semoga Allah tidak mengangkat derajatnya jika ia tidak memimpin kaumnya.”

Lihatlah apa yang diucapkan Hindun tanpa keraguan itu. Dengan tegas ia menyatakan bahwa anaknya akan menjadi pemimpin umat. Keyakinan yang menjadi doa. Allah mengijabah ucapannya. Putranya, Muawiyah bin Abi Sufyan adalah juru tulis Nabi ﷺ. Termasuk golongan yang Allah berikan ketenangan dalam Perang Hunain yang terdapat pada Q.S At Taubah:26, dan seperti yang telah disabdakan Nabi ﷺ menjadi orang yang pertama kali berperang di laut. Ia pun pernah didoakan Nabi ﷺ, “Ya Allah jadikanlah ia sebagai pemberi petunjuk, orang yang mendapat petunjuk, dan berilah petunjuk melaluinya.”(Ash Shalabi, 2014:46)

Kisah di atas hanyalah secuil contoh keberhasilan seorang ibu. Karenanya, jika para ibu sadar akan pentingnya dan sibuknya kehidupan di keluarga, niscaya mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengurusi hal-hal di luar keluarganya. Apalagi berangan-angan untuk menggantikan posisi laki-laki dalam mencari nafkah.  Jika kita melihat akan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah untuk seorang ibu, maka jelaslah bahwa ibu merupakan tumpuan besar bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas.

Persamaan gender yang didengungkan oleh kaum barat, tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas, sehingga yang ada adalah seperti saat ini, yaitu generasi yang malah membebek pada peradabaan barat yang rusak dan merusak.

Di sisi lain para ibu yang keluar karena terpaksa harus ikut menanggung beban ekonomi keluarga takkan mampu diselesaikan dengan sistem hari ini. Sebab kapitalisme telah menyebabkan kemiskinan secara struktural. Saatnya mengganti sistem hari ini dengan sistem lain yang menjadikan peran ibu di ranah domestik adalah bentuk kemuliaan. Dialah sistem Islam yang lahir dari sang pencipta dan pemilik alam semesta yakni Allah SWT. 

Islam sangat menghormati kedudukan seorang ibu. Kehormatan seorang ibu benar-benar dijaga dengan baik. Dijamin pendidikannya, kebutuhannya, bahkan kebahagiaannya agar kewajiban yang ada di pundaknya dapat terwujud sempurna. Penjagaan dan penjaminan yang baik bagi ibu, akan melahirkan generasi-generasi cemerlang. Generasi kuat, cerdas, beriman, dan bertakwa yang akan mengukir peradaban agung. Peradaban yang memancarkan cahaya kemuliaan ke seluruh penjuru bumi.

Islam tidak memberikan beban bagi ibu untuk bekerja mencari nafkah. Tugas ayahlah yang menafkahi keluarganya. Jika ayah tiada, maka nafkah ibu dan anak-anaknya ditanggung oleh keluarganya yang laki-laki atau saudara laki-lakinya yang mampu. Jika tidak ada yang mampu dari kalangan keluarga dan saudaranya, maka Negara yang wajib memenuhi kebutuhan ibu dan anak-anaknya. Sehingga ibu bisa fokus dengan tugasnya sebagai pencetak generasi muslim yang gemilang sesuai tunutunan syariat. Ibu tidak akan dibiarkan sendirian menanggung segala kebutuhan keluarganya. Tidak perlu keluar rumah untuk bekerja membanting tulang siang dan malam agar keluarganya tetap bisa hidup. Bahkan sampai meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu atau melanggar ketentuan syariat.

Meski tidak wajib mencari nafkah, namun ibu masih boleh bekerja selama mendapatkan ijin dari suaminya dan tidak melalaikan kewajiban utamanya. Dan dalam bekerja itupun tetap dalam koridor syariah. Bahkan seorang ibu boleh bekerja dan mengembangkan potensi dirinya untuk umat. Menjadi guru, dokter, perawat, arsitek, insinyur, penulis, petani adalah contoh pekerjaan yang bisa ditekuni para ibu. Selain itu juga ibu memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagaimana kaum laki-laki dalam pendidikan. Ia berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana wajib baginya menuntut ilmu. Yang mana dengan ilmu itu akan sangat membantunya dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan pencetak generasi masa depan yang gemilang.

Pun demikian halnya dalam aktivitas politik dan dakwah, kaum ibu juga memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat di dalamnya. Melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar dan penyadaran dan pembinaan kepada umat agar memahami Islam dengan baik. Jadi, dalam Islam kaum Ibu jelas posisi dan kedudukannya. Ibu ditempatkan pada posisi yang mulia. Dilindungi kehormatan, akal, jiwa, agama dan keamanannya. Lahir batinnya terlindungi. Inilah puncak kebahagian dan kemuliaan hakiki bagi kaum ibu: menjadi tonggak peradaban! Melahirkan dan mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan. Terhormat dan mulia di hadapan manusia dan Tuhannya. Segala urusannya diatur dan dijamin oleh syariah. Bukan untuk mengekangnya tetapi untuk memuliakannya.

Oleh karena itu sudah saatnya kita kembali kepada Islam, kepada syariah yang mulia. Karena memuliakan ibu tidak akan bisa dilakukan kecuali hanya dengan sistem mulia yang berasal dari zat Yang Maha Mulia, Allah SWT Pemilik Kemuliaan Sejati. Wallahu ‘alam bish-showab. []

Ingin belajar merajut, harus mulai darimana?

Di tengah kondisi pandemi yang memaksa untuk lebih banyak di rumah bahkan lebih baik #dirumahaja, sebagian orang akhirnya memilih untuk tidak melakukan apapun kecuali berkutat dengan gadget. Entah berselancar di social media, menonton film, update berita atau mencari berbagai tutorial di laman youtube atau website. Memang tak ada salahnya, namun terlalu lama berkutat dengan gadget tentu hal tersebut justru hanya akan mengabiskan waktu saja. Apalagi jika gadget yang kita gunakan hanya untuk sekedar berselancar di social media yang terkadang lebih banyak menghabiskan waktu.

Maka, agar aktivitas #dirumahsaja ini tetap produktif maka kita perlu mencari kegiatan di luar aktivitas bersama gadget. Setidaknya tidak berlama-lama memegang gadget bisa menjadikan pikiran kita lebih fresh. Cobalah melakukan hal seperti menanam tanaman, merawat bunga di halaman rumah, menjahit pakaian, membaca buku atau hal produktif lainnya. Bisa juga mengisi kegiatan dengan merajut. Ya, merajut busa jadi pilihan kegiatan selama #dirumahsaja.

Bagi pemula mungkin akan bertanya, jika ingin memulainya lalu harus mulai darimana? Apa yang harus disiapkan. Baiklah saya akan jelaskan harus darimana kita memulai.

Pertama, kamu bisa memulai kegiatan merajut dengan menyiapkan alat dan bahan akan yang digunakan untuk merajut. Alat dan bahannya sebagai berikut

1. Benang rajut. Untuk jenis benangnya, bisa pilih jenis benang apa saja. Yang paling mudah bisa gunakan saja benang katun. Untuk jenis-jenis benang dan peruntukkannya nanti akan saya jelaskan di post selanjutnya.

2. Hakpen atau knitting. Kalian bisa memilih salah satu dari keduanya. Namun, saya pribadi hanya menggunakan hakpen untuk aktivitas merajut

3. Peniti penanda.

4. Gunting

5. Jarum jahit khusus (dengan lubang benang yang besar

Selanjutnya jika alat dan bahan sudah tersedia maka kita bisa memulai merajut. Untuk tutorialnya bisa cari di channel youtube tentang merajut untuk pemula. Di sana ada banyak tutorial cara merajut. Pilihlah yang paling sederhana. Jika masih bingung bisa buka channel youtube saya ya. Silahkan buka linknya disini.

Sampai disini dulu. 😊

Sumber : foto pribadi

Dilema Pelarangan Mudik

Pemerintah telah memutuskan untuk melarang mudik bagi masyarakat terutama wilayah yang diberlakukan PSBB. Sebelumnya pada minggu lalu Presiden Jokowi telah memutuskan larangan mudik bagi ASN. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona Covid-19 lebih luas lagi ke berbagai daerah di Indonesia.
Di sisi lain, keputusan ini tentunya akan membuat masyarakat dilema terutama terutama bagi masyarakat yang kena PHK dan para pekerja informal karena imbas corona. Sebab baru sekitar satu bulan sejak wabah ini mulai merebak, sejumlah perusahaan telah mem-PHK ribuan karyawannya demi menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan. Efeknya pengangguran semakin bertambah. Para perantau tentunya akan memilih untuk pulang kampung daripada luntang-lantung di kota tanpa ada kejelasan penghidupan.

Kiranya jika pemerintah benar-benar melakukan pelarangan ini secara total, tentu kebijakan ini harus diiringi dengan adanya pemberian tunjangan bagi para perantau dan orang miskin agar mereka bisa tetap bertahan hidup. Sebab pemenuhan kebutuhan pokok dimasa seperti ini menjadi hal yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini. Dan tentunya ini adalah tanggung jawab pemerintah dalam pengurusan urusan rakyat.

Dwi P. Sugiarti
Majalengka

Pembunuhan Sadis Bikin Miris

Sebuah kejadian tragis menimpa seorang supir taksi online berinisial SB (60 tahun) yang dibunuh dan dibuang ke tepi jurang di jalan Balaraja-Pangalengan oleh empat orang remaja. Diketahui keempat tersangka melakukan aksi sadisnya dengan memukul kepala korban sebanyak 8 kali menggunakan kunci inggris. Pembunuhan tersebut dilakukan karena mereka tidak memiliki ongkos pulang hingga akhirnya melakukan pembunuhan berencana. 

Mendengar kabar ini tentunya kita terutama sebagai orangtua merasa miris dengan potret remaja hari ini. Usia belia justru mereka isi dengan tindak kejahatan. Terlebih mereka semua adalah perempuan dan satu dari mereka masih di bawah umur. Kita tentunya patut untuk mengevaluasi diri sejauh mana kita menjaga dan mendidik para generasi hari ini. 

Di tengah sistem dan lingkungan yang permisif (serba boleh) justru generasi hari ini terjerumus dalam kemaksiatan. Para orangtua membiarkan anak-anaknya pergi keluar kota tanpa pengawasan. Jika tak ada perbaikan, lalu bagaimana kelak masa depan bangsa ini akan diemban? Tidakkah kita sadar bahwa sistem hari ini telah membawa kerusakan bagi generasi? Hingga para orang tua justru lalai dalam pengasuhan generasinya. Wallahu’alam

Dwi P. Sugiarti

Majalengka

Berlibur

Saat kamu merasa penat dengan segala macam rutinitas dan masalah. Maka berliburlah untuk sejenak melupakannya. Sebab, pikiran yang fresh akan membuat penyelesaian masalah dan kejenuhan rutinitas, selesai dengan benar.

Pikiran yang fresh juga akan melahirkan pikiran-pikiran positif sehingga apa yang diputuskannya membawa dampak baik bukan malah membawa masalah baru.

Penyakit Penulis Pemula

Penyakit biasanya kalau ngga segera disembuhin biasanya makin parah. Harus segera dapat penanganan dan dikasih obat. Nah,ngobrolin soal penyakit hari ini saya bukan lagi ngobrolin soal penyakit fisik. Tapi penyakit yang sering menjangkit para penulis pemula. Apa aja? Yuk simak satu-satu

1. Ngga punya ide nulis.

Penyakit ini paling sering muncul buat kamu yang baru banget belajar nulis. Yaps, bingung mau nulis apa ya?

Entah karena terlalu banyak yang dipikirin atau emang bener-bener blank mau nulis apa? Jangan mau mulai nulis, mikirin ide aja ngga ketemu. Ujung-ujungnya ya ninggalin aktivitas nulis

2. Buntu ditengah jalan

Ini penyakit level dua. Udah ada ide si, tapi kok tiba-tiba macet karena bingung kelanjutan tulisannya. Saran saya, piknik dulu gih..😁entah itu berselancar ke dunia maya seperti sosial media( tapi ini harus hati-hati, kebablasan bisa bikin berabe 😂), website yang berkaitan atau sekedar mencari keyword biar ide kembali muncul. Bisa juga dengan menambah literasi kita lewat buku atau internet dn terakhir ya benerin piknik.Tujuannya apa? Buat merefresh otak biar ngga ngebul.

3. Malas

Kayanya ini ngga cuma penyakit penulis. Tapi juga profesi lainnya.Bawaannya kalau dah males, ngga mau ngerjain apa-apa. Pokoknya yang menurut dia nyaman itu yang dia kerjain. Walaupun kebanyaan penyakit malas itu, kerjaanya cuma tiduran sambil liat hpbuat buka sosmed tau game online. Gimana cara ngilanginnya? Paksain.Ngga ada obat paling ampuh utuk nyembuhin penyakit malas selain maksain diri buat ngerjain.

4. Menunda-nunda

Ngga beda jauh sama malas, menunda itu adalah penyakit yang menjengkelkan. Enak di awal tapi di akhir justru nangis dan kesel penuh penyesalan. Gimana, ngga? Bayangin aja, kerjaan yang harusnya selesai hari itu, akibat nunda justru akhirnya membuat kita kalang kabut karena kerjaan makin numpuk. Obatnya samakaya penyakit malas, paksaain buat kerjakan sebelum deadline.

Nah, itu dia gaess beberapa penyakit yang sering muncul pada penulis pemula. Sebenernya entah pemula atau bukan, kuncinya adalah menikmatinya. Sebab penyakit-penyakit di atas, kadang juga ada di para penulis yang sudah expert. Gimana ngga mampir? Sebab hal yang sudah menjadi rutinitas memiliki puncak kejenuhan. Yang membuat bertahan adalah dengan menikmatinya.

So, nikmati setiap prosesnya. Ada masanya bagi kalian penulis pemula brada pada titik kesuksesan kalian sebagai penulis profesional